Oleh: Fuji Eka Permana
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Umroh mandiri menjadi populer belakangan ini karena biayanya lebih murah dibanding menggunakan jasa travel umroh atau Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU). Akan tetapi, umroh mandiri disarankan hanya dilakukan oleh orang yang telah berpengalaman bepergian ke luar negeri khususnya ke Arab Saudi dan mengetahui tata cara umroh.
Sebagai orang yang berpengalaman melakukan umroh, Reza Hari mengatakan umroh yang dilakukan secara mandiri terbilang fenomenal saat ini. Meski demikian, umroh mandiri terkendala regulasi dari pemerintah Indonesia yang masih memiliki banyak regulasi. Dia menjelaskan, memang ada larangan dari pemerintah untuk menjual Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh), visa, dan lain sebagainya.
“Kalau memang ada yang sampai ketahuan, katanya akan kena denda, kena sanksi dari PPIU atau perusahaan jasa travel umroh yang menjual Siskopatuh tersebut,” kata Reza kepada Republika, beberapa waktu lalu.
Ia menerangkan, pada akhirnya memang praktik umroh mandiri sangat dinamis. Dia mengakui agak sulit jika umroh mandiri langsung berangkat ke Jeddah. Jikalau umroh mandirinya diawali dengan city tour ke negara ketiga biasanya lebih mudah, misalnya ke Kuala Lumpur atau ke Turki, kemudian berangkat ke Jeddah.
Menurut dia, persiapan yang harus dilakukan jamaah umroh mandiri, diantaranya mengetahui medan terutama di wilayah Arab Saudi. “Saya menemukan banyak jamaah umroh mandiri tapi ternyata akhirnya di sana (Arab Saudi) itu malah terbengkalai, ya malah kurang efektif,” ujar Reza.
Ia mengatakan, kebiasaan jamaah Indonesia saat tiba di bandara Arab Saudi adalah keluar secara bergerombol. Biasanya, mereka sudah ditunggu oleh petugas Nusuk di depan bandara.
https://www.instagram.com/reel/DLPvuXgStIb/embed/captioned/?cr=1&v=14&wp=810&rd=https%3A%2F%2Fkhazanah.republika.co.id&rp=%2Fberita%2Fssow6g483%2Fsuka-duka-umroh-mandiri#%7B%22ci%22%3A0%2C%22os%22%3A3267%2C%22ls%22%3A356.80000001192093%2C%22le%22%3A662.1000000089407%7D
Halaman 2 / 4
Petugas Nusuk tersebut akan bertanya perihal visa dan administrasi lainnya. Karena itu, seringkali jamaah umroh mandiri dari Indonesia terkendala bahasa saat bicara dengan petugas Nusuk.
Regulasi di bandara Arab Saudi itu berbeda dengan bandara internasional lainnya. Di bandara internasional lain, orang bisa keluar bebas. Tapi di bandara Arab Saudi pasti akan bertemu petugas Nusuk di depan.
Setelah keluar dari imigrasi akan bertemu petugas Nusuk. “Sering terkendala seperti itu yang umroh mandiri, akhirnya mereka tidak bisa menjelaskan detail, detail kegiatan mereka di Arab Saudi, jadi memang harus diawali dengan pemahaman tentang medan yang mau dilewati itu,” ujarnya.
Reza menegaskan, jamaah umroh mandiri harus tahu teknis perjalanan dari mulai di Indonesia, masuk ke negara ketiga, kemudian masuk ke Jeddah di Arab Saudi. Sebab kalau misalkan langsung terbang dari Indonesia ke Jeddah itu agak sulit karena terkendala regulasi Indonesia.
Apakah umroh mandiri hanya bisa dilakukan orang yang berpengalaman? Reza menyarankan, praktik umroh mandiri hanya dilakukan oleh mereka yang sudah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri, khususnya Arab Saudi.
“Mungkin mereka pernah umroh sebelumnya, jadi paling tidak mereka tahu situasi dan apa yang harus dilakukan, kunjungan kemana, dan semuanya,” ujar Reza.
Bagi mereka yang memang belum punya pengalaman datang ke Arab Saudi, dia menyarankan umroh menggunakan jasa travel. Kalaupun belum berpengalaman, Reza mengatakan, mereka bisa saja tetap melakukan umroh mandiri selama memiliki teman atau kolega yang tinggal di Arab Saudi.
“Jadi (umroh mandiri) tidak dilakukan secara personal atau seorang diri, karena kalau dilakukan secara personal pasti akan menyulitkan jamaah itu sendiri, menurut saya ya,” kata Reza.
Reza mengungkapkan, setelah menyaksikan berbagai kondisi orang-orang yang umroh mandiri di Arab Saudi, ternyata banyak masalah ditemukan. Ia mengatakan, setidaknya ada 100 ribu jamaah umroh yang tidak pulang pada 2024 sehingga peraturan umroh semakin diperketat.
Meski demikian, ulah jamaah umroh bermacam-macam. “Apalagi kejadian tahun 2024, orang banyak melakukan umroh di bulan Ramadhan, kemudian tidak pulang. Mereka langsung mengerjakan haji, ini juga fenomena kemarin 2024, iya akhirnya regulasi pemerintah Indonesia memperketat terus jadinya,” kata Reza.
Suka Duka Umroh Mandiri
Reza mengaku ada permasalahan yang ditemui ketika menjalani umroh mandiri semisal akomodasi. Dia mengungkapkan, tidak sedikit pengelola hotel Saudi yang komitmennya tidak bisa dipegang.
“Paling sering menemukan ada jamaah yang sudah pesan hotel melalui aplikasi online, tapi kemudian setelah sampai di hotel kamarnya sudah terisi,” ujar dia.
Pada akhirnya terjadi selisih pendapat antar pihak hotel dengan jamaah umroh. Karena itu, dia mengatakan, uang pesan hotel dikembalikan kepada jamaah.
“Tapi kemudian jamaah harus cari hotel lagi, sementara kalau orang yang belum paham, mereka pasti akan putar-putar untuk cari hotel yang baru,” ujar dia.
Ia menambahkan, tidak sedikit mereka yang beli langsung ke pihak hotel kemudian dibatalkan. Apalagi, ujar dia, mereka yang pesan hotel lewat aplikasi.
Sehubungan dengan banyaknya kendala yang mungkin terjadi di lapangan saat umroh mandiri, Reza menyarankan, umroh pertama sebaiknya umroh bersama travel umroh yang telah berizin. Jika sudah pengalaman umroh bersama travel, tidak akan kesulitan melakukan umroh mandiri di kemudian hari.
Terlebih, ujar Reza, orang Indonesia masih butuh bimbingan jika pertama kali datang ke Makkah untuk umroh.
“Sebab pemahaman saya, orang Indonesia itu tetap membutuhkan bimbingan, contohnya kalau kita baru pertama masuk ke kota Makkah, mana daerah-daerah tanah haram, mana daerah-daerah tanah halal, pasti orang yang pertama kali ke Makkah butuh bimbingan,” ujar Reza.
Reza mencontohkan teknis masuk ke Masjidil Haram mengingat pintunya terbilang banyak. Bagaimana jikalau jamaah umroh mau melakukan tawaf di daerah mataf (bawah). Bagi yang baru pertama kali umroh pasti butuh bimbingan.
https://www.youtube.com/embed/hv549i8W51Q?si=LWLdka0jX_o4dOC2 “Jika mau tawaf mulai dari mana, itu butuh bimbingan juga, jadi menurut saya memang jamaah Indonesia ini masih sangat butuh bimbingan apalagi untuk umroh yang pertama kali, saran saya sih bisa dibimbing dengan orang yang profesional kalau mau mandiri atau bisa dengan travel umroh yang amanah dan profesional,” ujar Reza.
Reza menegaskan, tapi kalau sudah paham tentang tata cara umroh, seluk beluk di Makkah, maka bisa umroh mandiri. Sebab umroh bukan hanya jalan-jalan ke Makkah dan Madinah, tapi ada nilai ibadahnya.
“Jamaah umroh dengan travel pun pasti umroh pertama itu semua jamaa pasti bingung semua, nah kalau mereka sudah umroh yang pertama, Insya Allah umroh kedua dan ketiga rata-rata umroh sendiri juga bisa,” kata Reza.

